Aku melangkah melintasi jalan
berdebu, Hari itu cuaca sangatlah panas. Rasanya matahari berada tepat diatas
kepalaku. Dimana pohon pohon rindang dipinggir jalan sudah dijadikan markas
pedagang asongan pinggir jalan. Dan kurasa hari ini para penjual air minum
dingin asongan memang sedang laku keras. Memang terbukti, setelah kuteguk
dinginnya sebotol air, tenggorokan yang kering seketika menjadi segar dan
sejuk. Cukup melelahkan rasanya hari ini. Tapi saatnya melanjutkan perjalanan—
Ku hela nafas panjang, tatapan mata ini mengarah pada jalanan
yang dipenuhi antrian kendaraan. alunan klakson pun membisingkan telingaku.
Huf, Jakarta is crowded city. Itulah tema potretanku hari ini. Walau masih
belum profesional, gak ada salahnya toh untuk menghilangkan rasa jenuhku.
Sesungguhnya inilah hobyku.
Waktu sudah menunjukan pada jam 13.00, wajar saja aku
merasakan panas terik matahari seperti ini. Tapi itu tidak menghentikan
langkahku sampai disini. “ckrik !!!”ckrik!!!”ckrik!!!” beberapa foto pun terpotret dengan sempurna.
Mungkin untuk melihat hasil aku harus mempreview gambar gambar ini, dan... ada
satu gambar yang membuatku terkesima, membuat mataku tak bisa berkedip, membuat
jantungku berdetak lebih kencang,
membuat hatiku luluh. Berulang kali ku tatap foto itu, dan hatiku bertanya,
“siapa dia?!”. seorang lelaki manis dan tampan berdiri tepat dibawah pohon
rindang dipinggir jalan. Kurasa aku
jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ku hampiri dirinya dan ku sapa dirinya dengan penuh rasa
percaya diri. Seperti saat pak Didi menyuruhku bernyanyi didepan kelas
,walaupun kutau suaraku menyerupai suara kodok yang bernyanyi disawah, saat
kumembuka mulut,dan bernyanyi layaknya super idol yang sedang pentas diatas
panggung super duper megah dengan penuh percaya diri aku bernyanyi. Alhasil
respon pak Didi dan teman teman pun amat baik padaku. Mulai dari situ, aku
dijuluki “sang Dewi Persik” oleh teman temanku. Semilir angin menerpa yang
membuat rambut indahku berkibar layaknya iklan shampo namun panasnya cuaca
membuat mataku susah terbuka dengan sempurna.
“hai...” kubuka
pembicaraan ini.
“iya? Ada apa ?” dia menjawab sapaanku dengan senyumannya,
matanya menatap mataku. Sungguh aku bagai melayang terbang jauh keatas awan
bersama kupu-kupu indah yang menari-nari seperti merasakan juga kebahagiaanku
ini.
Oke lamunan ku pecah,
dan kujawab tanyanya “hmm..gapapa, kamu lagi menunggu bis ya?” tanya luguku.
“iya” jawabnya singkat.
Aku sempat kesal dengan jawabnya yang amat singkat itu, tapi
mungkin bisa dimaklumi karena inilah yang namanya pen-dekatan.
“aku juga lagi nunggu bis, hmm mau pulang kemana? Oiya tadi
aku lagi iseng motret sekitar sini, terus tiba tiba aku gasengaja motret kamu.
Hm.. mau liat gak? Gak jelek kok...” seruku.
Lalu dia menjawab “aku mau ke toko buku diMatraman, kamu foto
aku? Aku gak suka difoto. Aku minta kamu hapus foto aku sekarang juga.”
Wajahnya amat serius menatapku, ku fikir itu gertakan
untukku. Ku ambil kamera dikalung leherku , ku genggam gemetar lalu ku hapus
seketika itu juga. “sudah ku hapus
fotomu dikameraku” jawabku penuh sesal.
Saat itu suasana hening wajahnya berubah menjadi menakutkan,
aku bingung harus bagaimana, ini salahku... beberapa detik kemudian bis yang
dia tunggupun datang dan... “kamu mau ikut aku ? kita bisa mengobrol lebih
banyak disana. Itupun kalau kamu mau.” Ajaknya sambil menaiki bis kopaja itu.
Aku tercengang, bagaimana pula orang yang tadi memarahiku tibatiba mengajakku
untuk kenal lebih dekat? Tanpa fikir panjang akupun ikut dengannya.
Bis ini sempit sekali, aku sibuk memasukan kameraku kedalam
tas, tanpa berpegangan ke tiang atau benda manapun, dan pak supir menginjak rem
mendadak, “aw...!!!” aku tersungkur jatuh, dia mengulurkan tangannya untuk
menolongku, aku berpegang erat menggenggam tangan nya tepat pandangan matanya
menatapku, sungguh kilaunya meluluhkan hatiku.
Ternyata jatuh cinta itu memang indah. Tuhan...jangan biarkan semua ini
berakhir. Aku ingin selalu bersamanya. Oiya tuhan...aku kan belum tau namanya. Lamunanku buncar. Sesampainya dimatraman kami
turun dari bis dan dia menarikku sampai masuk ke toko buku. Aku bingung
sebenarnya apa sih yang dilakukan padaku. Dia membaca buku tentang musik. Dan
akupun membuka percakapan “kamu suka musik? Oiya maksud kamu apa bawa aku
kesini? Oiya nama kamu siapa? Kamu kelas berapa? Sekolah dimana? “ tanyaku.
“aku suka musik...aku suka bermain gitar, saat suasana hatiku sedang kacau aku bermain
gitar , disaat sedang senangpun aku bermain gitar, ku mainkan lagu lagu yang
bisa membuat hatiku nyaman, dengan gitar hidupku tak sepi lagi. tapi aku benci
fotografi ! oiya namaku Raka. Aku baru lulus tahun ini” aku menatap dengan
penuh simak, dan dia melanjutkan perkataannya “aku bawa kamu kesini biar bisa
kenal sama kamu, aku harap kamu jangan foto aku lagi ya” dia mencubit pipiku.
Aku bingung sama cowo ini, awalnya aku yang jatuh cinta padanya dan ingin dekat
dengannya. Tapi kenapa sekarang responnya malah menjadi jadi terhadapku. Aku
jadi penasaran.
“ada apa denganmu? Sifatmu aneh. Tadi kamu memarahiku. Tapi
sekarang kamu malah mencubit pipiku. Orang aneh.” Gumamku.
“terus kamu benci sama aku? Hah? Yaudah sana pergi ! gak usah
ikutin aku!” ucapnya dengan emosi.
Akupun emosi menanggapinya “hello?!! Siapa yang tadi ngajak
aku kesini haaah? Sumpah yah aku tuh bingung sama kamu, kamu punya penyakit apa
sih sampe segini labilnya. Kita baru kenal.! Nyesel kenal sama kamu ka!”
“hahahahaha kamu kalo lagi marah cantik juga ya hahaha” Raka
menertawaiku.
Aku kesal, dan sangat teramat kesal “Raka! Kamu gila ya.
Herrgh!” aku pergi meninggalkannya. Tiba tiba terdengar suara keras “Tunggu!!!”
dia menggenggam tanganku dan ... “aku rasa aku suka kamu pada pandangan
pertama, kamu gadis yang cantik dan lucu. Aku bingung caranya jatuh cinta pada
orang. Aku belum pernah merasakan seperti ini. Maka dari itu sikap anehku aneh.
Oiya sebelum kamu pergi, aku boleh tau gak nama kamu siapa? Kamu sekolah
dimana?” Raka berbicara malu.
Raka ini memang lucu, aku ingin ketawa terbahak bahak rasanya
namun sayang ini adalah tempat umum. Aku menjawab pertanyaannya “ya ampun
Raka... aku kira kamu punya penyakit apaaa gituuu yang ngebuat kamu aneh kaya gitu. Haha nama
aku Sarah aku baru aja masuk kuliah jurusan Jurnalistik. Jadi selama sekolah
belum pernah pacaran? Yaampun makanya janga n pacaran sama gitar terus. Hehehe”
lalu Raka menarik kedua tanganku.
“hm...Sarah, kamu mau gak jadi pacar aku? Aku janji walaupun kita baru
kenal aku gak bakalan ngecewain kamu” denga muka lugunya Raka menyatakan cintanya
kepadaku. Aku fikir perasaanku terjawabkan. Aku yang tadinya suka pada
pandangan pertama dan Raka juga suka aku pada pandangan pertama. “ Mungkin
tuhan menjodohkan kita berdua ka... aku juga suka kamu saat tadi aku memotretmu
makanya aku langsung menghampirimu ka..hmmm aku mau kok jadi pacar kamu” aku
tersenyum halus pipiku memerah seketika saat Raka memelukku. “berarti kita jadian yeeee” aku melepas
pelukannya “Rak ini tempat umum rak” -_-
Hari itu adalah hari istimewa bagi aku dan Raka. Namun Senja
mulai datang kami berdua sudah saatnya pulang kerumah masing masing.
Sesampainya dirumah Raka mengirimkan suatu pesan singkat untukku.
“jangan lupa makan ya sayang” ini pertama kalinya Raka
memanggilku dengan kata sayang. Akupun membalasnya dengan kata sayang juga.
Malam itu kami smsan hinggal larut malam, inti dari itu semua
adalah besok Raka ingin mengajariku bermain gitar dan aku akan mengajari Raka
bagaimana caranya tehnik memotret. Aku tak sabar ingin menunggu besok.
Pagipun datang, aku berangkat kuliah pagi hari ini. Dan
sepulang kuliah Raka sudah menjemputku didepan kampus. Kami berhenti ditaman
kota. Raka mengeluarkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu ciptaannya khusus
untukku.
Inilah lagu untukmu
Yang kucipta untuk
cinta kita
Jangan sedih bila cinta
kita hilang
Karena hanya maut
yang memisahkan
Dan kau akan selalu
dihatiku
Selamanya~
Suaranya merdu sekali terdengar entahlah apakah ini karena
cinta atau benar benar merdu. Lalu Raka mengajariku bermain gitar. Ditengah
pelajaran aku mengeluarkan tripot dan kameraku diletakkan didepan bangku taman
yang kami duduki. Ku aktiifkan “timer” pada kameraku. Lalu “cheers...!!!” kami
berdua bergaya mesra didepan kamera. Raka sangat tampan difoto itu. Entah
kenapa Raka mau difoto padahal dia kan benci fotografi. Mungkin karena cinta
juga yang merubahnya. Tanpa terasa hari
itu cepat sekali berakhir, kami pun harus pulang. Namun kali ini Raka
mengantarku sampai rumah.
Malam ini aku mencetak foto Aku dan Raka ditaman tadi lalu ku
bingkai dengan rapi dan ku letakkan disamping lampu tidurku. Tapi kenapa malam
ini Raka gak sms ya? Apa mungkin dia terlalu lelah karena seharian denganku?
Beberapa saat kemudian foto itu tanpa sebab apapun, bingkainya pecah berkeping
keping. Perasaanku mulai resah. Aku segera menelfon Raka. “ hallo sayang kamu
gak kenapa napa kan?” lalu Raka menjawab “sayang tolong temui aku didepan toko
buku matraman ya i love you” aku penasaran dan langsung bergegas pergi dan tak
lupa kameraku. Sesampainya di sana, garis polisi dan kemaraian orang
mengelilingi sebuah mobil, sepertinya ada kecelakaan, aku segera mengeluarkan
kameraku dan memotretnya, karena sebagai seorang jurnalist aku harus sigap
dalam kejadian seperti ini. Namun mobil ini sepertinya aku kenali. Aku tersungkur jatuh didepan mobil yang sudah
hancur dibagian depan. “kecelakaan terjadi sekitar 2 jam yang lalu de,
disebabkan karena pengemudi yang lalai dalam mengendalikan kendaraan diduga
pengemudi mengantuk saat menyetir. Hanya ada 1 orang didalam mobil. Seperti
yang anda lihat, korban tewas seketika. Kami belum bisa membawa kerumah sakit.
Karena kami menunggu pihak keluarga. Anda keluarganya?” ucap salah seorang
polisi kepadaku. Tanpa menjawab pertanyaan sang polisi aku langsung menghampiri
korban. Kamera ku terjatuh dengan sengaja, aku tersentak melihat tubuh Raka
yang tidak bernyawa lagi. Tubuh yang
berlumur darah dan tergeletak diaspal jalan.
Aku hanya bisa menangis tiada henti. “2 jam yang lalu seharusnya Raka
tidak usah mengantarku pulang, untuk apa dia membawa mobil hari ini. Dan
maksudnya apa seorang yang membenci fotografi tiba tiba menikmati pemotretan
bersamaku. Bagaimana dengan lirik lagu yang dia ciptakan padaku, itu semua
petanda. Mengapa hubungan kita secepat
ini ? mengapa ?????!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”.
the end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar