Sebuah Kenyataan (let the love begin.. -part 5)

Selamat pagi Jogyakarta, selamat pagi juga keluarga Rene. Pagi ini sungguh sejuk, namun tak sesejuk hatiku. Kuminum secangkir teh panas yang dibuatkan oleh mami Rene, dengan ditemani kue serabi yang lezatnya tak terkira. Aku dan Rene sangat menikmatinya. Aku termenung menatap dedaunan yang dipenuhi embun pagi. Melihat indahnya burung burung gereja yang hinggap tepat diberanda rumah Rene. Saling berkicauan bak menyambut datangnya pagi yang indah ini. Renungan pecah saat Rene yang tiba tiba menepuk bahuku.
“hey elish!!! kamu pasti sedang mikirin Rikomu itu ya? Udahlah lish jangan terlalu difikirin...positif thinking baby...sebentar lagi juga dia ngehubungin kamu kok...tunggu aja deh. Okey J  ” ujar Rene.
“aku tak tau harus bertanya kesiapa lah Ren...Dia sudah tak memberiku kabar lagi..aku jauh jauh dari Paris hanya untuk bertemu dia.. tetapi mengapa dia mengecewakanku? Harus berapa lama ku menunggunya untuk menghubungiku?!” jawabku dengan penuh rasa kesal.
Tiba tiba telfon genggamku berbunyi, dan setelah ku lihat layar itu nomor handphone Riko. segeralah ku angkat telfon itu. Ku buka pembicaraan itu dengan kata “hallo??!”. Namun sepertinya ada yang berbeda dari suaranya.
“hallo ini bener koe elish? aku konco ne Riko. hm,, aku diperintahi karo Riko , mbak elish iki suru dateng ke Rumah sakit “jaya kusuma”, kalau mbae bisa, toh sekarang wae yo..ditunggu loh mba karo Riko.” serunya
“hallo ini siapa? Rikonya mana? Rumah sakit? Maksudnya apa? Hallo ? Hallo? Hallo?” tuuuuuttt jaringan terputus.
Aku langsung bergegas menyiapkan barang barang ku untuk pergi keRumah sakit itu. Rene sibuk bertanya tanya padaku. Aku hanya menjawab “bah berisik sekali kau ini. Sudah ikut saja! Ayo”. Ku panggil taxi lalu ku perintahkan supir untuk sedikit cepat dalam menyetir mobil.
Sesampainya diRumah Sakit, ku tanyakan kepada receptionist tentang pasient yang bernama Riko, ia menunjukkan ruangan yang ditempati Riko. aku langsung berlari mencarinya. Rene hanya mengikutiku dari belakang dengan wajah yang penuh dengan pertanyaan. Sampailah aku di kamar “melati 1” yaitu kamar rawat pasien yang bernama Riko. tepat disebuah bangku yang ada didepan kamar itu ada seorang laki laki sepantaranku duduk merunduk, dia terkejut karena kedatanganku. Aku langsung bertanya kepadanya “dimana Riko?” dan dia hanya menunjuk pintu kamar Riko dengan wajah sedihnya. kubuka perlahan pintu kamar itu sambil kutahan tetesan air mata yang hampir terjatuh karena kepanikanku. Langkah kaki ini sungguh berat terasa, aku tak tega melihat pacarku terbaring lemah dengan bantuan oksigen dan macam macam alat kedokteran yang ada ditubuhnya. Nafasku tersendak,Air mataku tak dapat kutahan lagi. Mereka berjatuhan tanpa henti. Melihat kekasihku terbaring lemah tak sadarkan diri seperti ini. Ku peluk Rene dengan eratnya ku bersandar dibahunya. Ia mengajakku keluar kamar itu.
Temannya bilang Riko sakit kanker otak sejak 1 tahun yang lalu , semakin hari kanker itu semakin menggerogoti tubuhnya. Ibu dan ayahnya sibuk bekerja diJakarta. Mereka akan datang sebentar lagi. Kini Riko tinggal sendirian diJogya. Hanya ditemani Ryan temannya. Beruntung Ryan cepat memberi kabar kepadaku tadi ditelfon. Aku tak kuasa menahan tangis. Sekarang Riko mengalami kondisi kritis. Tubuhnya hanya dibantu alat dokter untuk bisa bernafas dan memompa jantung. Sungguh aku begitu sedih, mengapa selama ini Riko tak pernah bilang kepadaku. Dimataku Riko adalah seorang yang ceria tanpa beban apapun dalam hidupnya. Kami selalu bersama hingga akhirnya menjadi kekasih. Tapi ternyata aku sadar, aku bukan seorang kekasih dan sahabat yang baik. Bahkan akupun baru mengetahui soal ini. Aku sangat kecewa pada diriku sendiri. Riko aku sayang kamu... jangan tinggalkan aku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar