Selamat
pagi Jogyakarta, selamat pagi juga keluarga Rene. Pagi ini sungguh sejuk, namun
tak sesejuk hatiku. Kuminum secangkir teh panas yang dibuatkan oleh mami Rene,
dengan ditemani kue serabi yang lezatnya tak terkira. Aku dan Rene sangat
menikmatinya. Aku termenung menatap dedaunan yang dipenuhi embun pagi. Melihat
indahnya burung burung gereja yang hinggap tepat diberanda rumah Rene. Saling
berkicauan bak menyambut datangnya pagi yang indah ini. Renungan pecah saat
Rene yang tiba tiba menepuk bahuku.
“hey
elish!!! kamu pasti sedang mikirin Rikomu itu ya? Udahlah lish jangan terlalu
difikirin...positif thinking baby...sebentar lagi juga dia ngehubungin kamu
kok...tunggu aja deh. Okey J ” ujar Rene.
“aku
tak tau harus bertanya kesiapa lah Ren...Dia sudah tak memberiku kabar
lagi..aku jauh jauh dari Paris hanya untuk bertemu dia.. tetapi mengapa dia
mengecewakanku? Harus berapa lama ku menunggunya untuk menghubungiku?!” jawabku
dengan penuh rasa kesal.
Tiba
tiba telfon genggamku berbunyi, dan setelah ku lihat layar itu nomor handphone
Riko. segeralah ku angkat telfon itu. Ku buka pembicaraan itu dengan kata
“hallo??!”. Namun sepertinya ada yang berbeda dari suaranya.
“hallo
ini bener koe elish? aku konco ne Riko. hm,, aku diperintahi karo Riko , mbak
elish iki suru dateng ke Rumah sakit “jaya kusuma”, kalau mbae bisa, toh
sekarang wae yo..ditunggu loh mba karo Riko.” serunya
“hallo
ini siapa? Rikonya mana? Rumah sakit? Maksudnya apa? Hallo ? Hallo? Hallo?”
tuuuuuttt jaringan terputus.
Aku
langsung bergegas menyiapkan barang barang ku untuk pergi keRumah sakit itu.
Rene sibuk bertanya tanya padaku. Aku hanya menjawab “bah berisik sekali kau
ini. Sudah ikut saja! Ayo”. Ku panggil taxi lalu ku perintahkan supir untuk
sedikit cepat dalam menyetir mobil.
Sesampainya
diRumah Sakit, ku tanyakan kepada receptionist tentang pasient yang bernama
Riko, ia menunjukkan ruangan yang ditempati Riko. aku langsung berlari
mencarinya. Rene hanya mengikutiku dari belakang dengan wajah yang penuh dengan
pertanyaan. Sampailah aku di kamar “melati 1” yaitu kamar rawat pasien yang
bernama Riko. tepat disebuah bangku yang ada didepan kamar itu ada seorang laki
laki sepantaranku duduk merunduk, dia terkejut karena kedatanganku. Aku
langsung bertanya kepadanya “dimana Riko?” dan dia hanya menunjuk pintu kamar
Riko dengan wajah sedihnya. kubuka perlahan pintu kamar itu sambil kutahan
tetesan air mata yang hampir terjatuh karena kepanikanku. Langkah kaki ini
sungguh berat terasa, aku tak tega melihat pacarku terbaring lemah dengan
bantuan oksigen dan macam macam alat kedokteran yang ada ditubuhnya. Nafasku
tersendak,Air mataku tak dapat kutahan lagi. Mereka berjatuhan tanpa henti.
Melihat kekasihku terbaring lemah tak sadarkan diri seperti ini. Ku peluk Rene
dengan eratnya ku bersandar dibahunya. Ia mengajakku keluar kamar itu.
Temannya
bilang Riko sakit kanker otak sejak 1 tahun yang lalu , semakin hari kanker itu
semakin menggerogoti tubuhnya. Ibu dan ayahnya sibuk bekerja diJakarta. Mereka
akan datang sebentar lagi. Kini Riko tinggal sendirian diJogya. Hanya ditemani
Ryan temannya. Beruntung Ryan cepat memberi kabar kepadaku tadi ditelfon. Aku
tak kuasa menahan tangis. Sekarang Riko mengalami kondisi kritis. Tubuhnya
hanya dibantu alat dokter untuk bisa bernafas dan memompa jantung. Sungguh aku
begitu sedih, mengapa selama ini Riko tak pernah bilang kepadaku. Dimataku Riko
adalah seorang yang ceria tanpa beban apapun dalam hidupnya. Kami selalu
bersama hingga akhirnya menjadi kekasih. Tapi ternyata aku sadar, aku bukan
seorang kekasih dan sahabat yang baik. Bahkan akupun baru mengetahui soal ini.
Aku sangat kecewa pada diriku sendiri. Riko aku sayang kamu... jangan
tinggalkan aku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar