Malam itu aku masih terdiam di rumah sakit, menunggu
kekasihku terbangun dari komanya. Aku berdoa sepanjang waktu. Rene tak henti
menepuk dan mengelus bahuku, menghapus air mata ku. Hingga menyajikan sedikit
makanan untukku, namun aku tidak sama sekali nafsu untuk memakannya. Ku ingat
kenangan kenangan masa laluku bersama Riko. namun apadaya. Air mataku kembali
berjatuhan. Beberapa saat kemudian ayah dan Ibu Riko datang menghampiri Aku,
Rene , dan Ryan. Mereka sebelumnya sudah kenal denganku. Dulu saat sekolah aku
sering sekali diajak Riko kerumahnya dan dikenalkan dengan orang tuanya. Kami
semua bergegas masuk ke kamar Riko. Ibunya mencium kening Riko dengan penuh
haru. Ayahnya mengelus halus tangan Riko. aku hanya menggigit bibir dan terisak
menahan tangisan yang akhirnya tidak dapat kubendung lagi. semua menangis
melihat kondisi Riko saat ini.
Saat itu tiba tiba jari tangan Riko bergerak pelan.
Matanya terbuka perlahan lahan. Riko sadarkan diri. Semua terkejut melihatnya.
Tubuhnya yang kurus itu terlihat lemah sampai rasanya susah sekali untuk
berbicara. Namun Riko memaksa mulutnya untuk berbicara perlahan.
Riko berkata pada semua dengan terbata bata “ma..ma...ma...mama...pa..pa..papa...e..elish...
a...ku sa...sa...yang ka..ka..lian...tapi. se..seper..tinya.. aku ha..rus
per......................gi..”
Matanya kembali tertutup sempurna. Ryan berlari memanggil
dokter. Semua panik termasuk aku. “dokter...dokter...dokter...” semua memanggil
katanya ini. Tak lama kemudian dokterpun datang, namun apa yang dia katakan? Nyawa Riko tidak bisa diselamatkan lagi. Tuhan
sudah memanggilnya.
Aku tersentak mendengarnya nafasku sesak , tubuhku
lemas, entah apa yang harus aku lakukan. Rene merangkulku. Menangis bersama
dalam pelukan. Begitupun Ibu dan ayah Riko.
Pemakaman diselenggarakan diJakarta, semua saudara
maupun teman sekolah Riko berkumpul, akupun ikut keJakarta. Semua teman
sekolahku dulu merangkul dan memelukku termasuk Dita dan dua temannya yang dulu
sangat membenci aku dan Riko. kini aku bagaikan bunga tanpa tangkai, mengapa
kisah cintaku harus berakhir seperti ini. Kini aku merasakan rasanya kehilangan
cinta. bagaimana bunga bisa tumbuh tanpa tangkainya, Bagaimana hidupku tanpa
sebuah cinta?
***
Seminggu setelah kepergian Riko, kini waktu aku
kembali ke Paris untuk melanjutkan studyku, awalnya aku tak sanggup
meninggalkan makam Riko, tapi yang seperti Rene bilang “Riko pasti senang
dialam sana kalau selalu tersenyum bahagia didunia ini, begitupun sebaliknya.”
Kini apapun yang aku lakukan semua hanya untuk Riko bahagia. Ternyata benar
kata orang orang kalau cinta itu mudah “datang dan juga pergi”.walau begitu,
Aku yakin kalau aku bisa menjadi orang yang sukses Riko pasti bangga dengan
aku.
...The end...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar