Setiap manusia di dunia ini mempunyai suatu kekurangan
dan kelebihan masing masing. Indonesia mempunyai berbagai macam suku bangsa dan
bahasa. Namun kita tetap satu jua. “bhinneka tunggal ika”. perlu diakui, bahwa
zaman sekarang ini hidup serba ribet. Mau milih temen aja susah karena suatu
keterbatasan atau kekurangan yang ada. Orang kaya bergaul dengan orang kaya.
Orang miskin dibodoh, kalo kata anak zaman sekarang sih “kamseupay”. Orang yang
biasa saja dikiranya kurang gaul. Terbukti memang hidup ini ribet. Aku termasuk
golongan yang mana ya?
***
Namaku Elish, remaja asal kota Medan yang belum lama
ini tinggal diJakarta. 16 tahun tinggal di Medan membuat gaya bahasaku lengket
dengan budaya batak itu sendiri. Sangat sulit untuk mengubahnya. Tapi aku cukup
santai dan bangga menggunakan logat batak di Jakarta ini.
Sepertinya cuaca dipagi itu tidak terlalu mendukung
untuk menuntunku pergi ke sekolah. Tetapi siapa sangka jika pagi itu ada
seseorang yang menjemputku, dia tepat berdiri bersama motor satria nya didepan
gerbang rumahku.
“tiinnnn...tinnnn...!!!”
Riko membunyikan klakson motornya berulang kali.
“Bah!!!
macam apa pula kau membunyikan klaksonmu terus menerus! Kau fikir aku tidak
dengar? Mamakku itu sedang tertidur pulas didalam. kau tau itu???!!!” ucapku
dengan nada kesal.
“sorry
sorry gue gak tau lis, yaudah yuk kita berangkat dari pada keburu ujan nih udah
mendung, ayo cepet naik!” ujar Riko.
Diperjalanan
menuju sekolah, ternyata benar kata riko. Hujan turun dengan derasnya. Kami
berteduh disalah satu halte pinggir jalan. Dan disinilah kejadian itu terjadi.
Seragamku hampir basah kuyup karena air hujan. Aku menggigil kedinginan. Hanya
terdiam menunggu hujan yang mungkin akan reda sebelum jam 06.30.
“dingin
yah...kayanya kalaupun kita terus jalan kesekolah gamungkin deh, paling telat
terus dikunciin gerbang. Pulang lagi deh” Riko memulai percakapan.
“benar
sekali kau, bajuku basah seperti ini bagaimana pula aku bisa mengikuti
pelajaran nanti. bah Yang ada aku malah sakit lah...” jawabku.
“ini
pake aja jaket gue... kalo ujannya udah reda kita pulang aja. Ini udah jam
06.55 kita pasti dikunciin gerbang. Besok kita bilang ke bu rida kalo sekarang
kita itu kejebak hujan. Oke.” Riko berkata sambil menyodorkan jaketnya
kepadaku.
Aku
fikir Riko ada benarnya juga, dan beberapa saat kemudian hujan pun reda. Kami
berjalan pulang. Riko mengantar sampai depan gerbang rumahku. dari depan pintu
rumah terlihat mamak yang sedang berdiri tegap dan meletakkan kedua tangannya
dipinggang. Dengan mata melotot iya berkata “TELAT LAGI KAU?! IYA?! BAH, DASAR
KAU INI.” ucapnya tegas. Akupun menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada
mamak.
Mamaku memang seorang ibu yang sangat
amat tegas dari ucapannya, jelaslah karena kami ini keluarga asli suku batak.
Namun sebenarnya mamak itu jarang sekali memperdulikanku dan adikku Reza yang
berumur 12 tahun. Ayahku sedang tugas berlayar ke eropa sana. Dia akan pulang
ke rumah 6 bulan sekali. Ya bisa dibilang ayahku seorang pelaut. Hehe
Hidup
ini singkat. Buktinya mamak Cuma menegurku sekali tanpa berbicara panjang lebar
tanpa titik tanpa koma seperti ibu ibu lain bukan?! Itulah mamakku, wanita yang
amat kusayang dan ku cintai di dunia ini.
Hari ini fikiranku jatuh pada kejadian dihalte
tadi,sungguh Riko adalah teman terbaikku disini, dia tidak seperti anak laki
lain disekolah yang biasa menghinaku dengan sebutan “si batak”. Dia teman
terbaik yang juga suka menyebalkan. Namun sepertinya aku suka padanya. Terlebih
ketika kejadian dihalte tadi, iya memberi jaketnya kepadaku. Sungguh itu hal
terbaik Riko sejauh ini. Biasanya dia jail kepadaku. yaTuhan 3bulan aku
diJakarta, 3bulan pula aku mengenal dia, aku sungguh menyayanginya lebih dari
sekedar teman. Disekolah pun orang orang mengira kami adalah sepasang kekasih
dengan sebutan “si duo batak” tapi kita gak peduli apa yang orang bilang. Tapi
sebenarnya aku suka bingung, kenapa Riko mau berteman denganku. Apa karena kita
sama sama keturunan asli suku Batak? Namun bedanya Riko sudah tidak berlogat
batak lagi karena sudah terlalu lama dijakarta.
***
Tanpa
terasa malampun tiba, seperti biasa Riko mengirim sms kepadaku dari mulai
mengajak berangkat sekolah bersama sampai mengucapkan selamat tidur untukku.
Sungguh apakah ini harusnya dibilang pacaran. Mana ada teman yang setiap hari
memerhatikanku layaknya kekasih seperti ini. Riko... apa maksudmu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar